jual beli harus suka sama suka ber menfaat dan menyempurnakan takaran



pekanbaru

pekanbaru adalah kota terbesar di provensi riau dan merupakan ibukota provensi riau. Kota tersebut merupakan kota jasa dan perdagangan, termasuk sebagai kota dgn tingkat pertumbuhan, urbanisasi dan migrasi yang tinggi. Pekanbaru memiliki satu bandara internasional, yaitu Bandara Sultan Syarif Kasim dua, dan juga memliliki terminal bus terminal antar kota antar provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta 2 pelabuhan kapal di Sungai Siak, yaitu sungai duku dan Pelita Pantai. Sekarang ini Kota Pekanbaru tengah berkembang pesat menjadi kota dagang yg multi-etnik, keberagaman tersebut telah menjadi modal sosial dalam rangka mencapai kepentingan bersama guna dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakatnya. Sejarah Sultan Siak beserta Dewan Menteri dan Kadi Siak th 1888 Perkembangan kota pekanbaru awalnya tak lepas dari pada fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam rangka mendistribusikan hasil bumi dari plosok dan dataran tinggi Minangkabau ke kawasan pesisir Selat Malaka. Diabad ke-18, kawasan Senapelan ditepian Sungai Siak, menjadi sebuah pasar (pekan) para pedagang dari dataran tinggi Minang. Seiring berjalannya waktu, daerah tersebut berkembang hingga menjadi pemukiman yg ramai.
Pada tgl 23 Juni 1784, berdasarkan musyawarah Dewan Menteri Kesultanan Siak, yg terdiri dari datuk keempat suku Minangkabau (Limapuluh, Tanah Datar, pesisir, dan Kampar), wilayah ini dinamakan Pekanbaru, lalu dikemudian hari diperingati sebagai hari jadinya.
Pekanbaru menjadi salasatu bagian distrik dari Kesultanan Siak. Tapi pada th 1931, Pekanbaru dimasukkan kewilayah Kampar Kiri yang diketuai oleh seorang controleur yg berkedudukan di pekanbaru dan berstatus landschap hingga tahun1940. Lalu menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kiri hingga tahun 1942. Sesudah pendudukan Jepang pada tgl 8 Maret 1942, Pekanbaru dipimpin oleh seorang gubernur militer yg disebut gokung. Selepas kemerdekaan negara Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tgl17 Mei 1946 Nomor 103, kota ini dijadikan daerah otonom yg disebut Kotapraja. Kemudian tgl 19 Maret 1956, berdasarkan UU No. 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru menjadi daerah otonom kota kecil dilingkungan Provinsi Sumatera Tengah. Berikutnya sejak tgl 9 Agustus 1957 berdasarkan UU Darurat No. 19 Th 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk kewilayah Provinsi Riau yg baru terbentuk. Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau tgl 20 Januari 1959 berdasarkan Kepmendagri nomor 52/I/44-25 awalnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjung Pinang yang sekarang menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.
Secara geografis kota Pekanbaru mempunyai posisi strategis berada dijalur Lintas Timur pulau Sumatera, terhubung dgn beberapa kota besar seperti padang, Medan, dan Jambi, dgn wilayah administratif, diapit oleh Kab Siak dibagian timur dan utara, sementara bagian selatan dan barat oleh Kabupaten Kampar. Kotanya dibelah Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan ketinggian berkisar antara 5 hingga 50 meter dpl. Kota tersebut beriklim tropis dgn suhu udara max berkisar 34.1 °C sampai 35.6 °C, dan suhu min berkisar antara 20.2 °C - 23.0 °C. Sebelum th 1960 Pekanbaru hanyalah sebuah kota dengan luas 16 km² lalu bertambah hingga menjadi 62.96 km² dengan dua kecamatan diantaranya kecamatan limapuluh dan kecamatan senaplelan. Berikutnya th1965 menjadi enam kecamatan, dan th 1987 menjadi delapan kecamatan dgn luas wilayahnya 446,50 km², setelah Pemerintah didaerah Kampar menyetujui menyerahkan sebagian wilayahnya untuk kepentingan perluasan wilayah Pekanbaru, yang selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah RI No. 19 Th 1987. Kemudian ditahun 2003 kecamatan kota ini dimekarkan menjadi duabelas kecamatan. Dengan 12 kecamatan sudah cukup untuk usaha kopi luwak bagi yang bisa memenfaatkannya, kalau di setiap kecamatan bikin warung kopi luwak artinya sudah punya 12 warung kopi luwak.
Kependudukan dan Suasana perayaan th baru Imlek di kota ini Komposisi etnis di Kotanya Etnis Jumlah (%) Tionghoa 7,0 Melayu 26,10 Jawa 15,70 Batak 10,8 Minangkabau 37,70 Lain-lain 3,3 Sumber: Bappeda th2008 Sejak th 2010, Pekanbaru sudah menjadi kota ke-3 berpenduduk terbanyak di Sumatera, setelah Palembang dan medan. Laju pertumbuhan ekonominya yang pesat, menjadi pendorong pertumbuhan penduduknya. Etnis Minangkabau adalah masyarakat terbesar dgn jumlah berkisar 37,96% dari total penduduk kotanya. Mereka pada umumnya bekerja sebagai pedagang dan profesional. Jumlahnya yang cukup besar, telah menjadikan Bahasa Minangkabau sebagai salah satu bahasa pergaulan yang pakai oleh penduduk dikota Pekanbaru selain Bahasa Bahasa Indonesia atau melayu. Selain itu, etnis yang mempunyai proporsi cukup besar ialah Melayu, Batak jawa, dan Tionghoa. Perpindahan ibu kota Prov Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru th 1959, memiliki andil menempatkan orang Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan dikota, tetapi sejak th 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dgn berdirinya Provinsi Kep Riau dari pemekaran Prov Riau. Masyarakat Jawa pada awalnya banyak didatangkan sebagaipetani dimasa pendudukan Jepang.