jual beli harus suka sama suka ber menfaat dan menyempurnakan takaran



tangerang

tangerang merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Banten, Indonesia, tepatnya di sebelah barat Jakarta, dan dikelilingi oleh Kabupaten Tangerang di wilayah barat, selatan, dan timur. Tangerang adalah kota terbesar di Prov Banten juga ketiga terbesar di wilayah perkotaan Jabotabek setelah Jakarta. Pembagian administratif Kotanya terdiri dari 13 kecamatan, dan dibagi lagi menjadi 104 kelurahan. Sebelumnya Tangerang adalah bagian dari wilayah Kabupaten Tangerang, lalu ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif, hingga akhirnya ditetapkan sebagai kodya pada tgl 27-2-1993. Sebutan 'kodya' diganti dengan 'kota' pada th 2001. Tinjauan umum Tangerang ialah pusat industry dan manufaktur di tanah Jawa dan mempunyai lebih dari 1000 pabrik. Cocok untuk jual kopi luwak buka toko atau warung kopi luwak, apalagi Banyak perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki pabrik di kota tersebut.
Tangerang cuacanya cenderung panas dan lembap, dengan hanya sedikit hutan ataupun bagian geografis lainnya. Pada kawasan tertentu terdiri atas rawa-rawa, termasuk wilayah di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta. beberapa tahun terakhir ini, perluasan urban kota Jakarta meliputi Tangerang, dan dampaknya banyak penduduk yang berkomuter ke kota Jakarta untuk bekerja, atau sebaliknya. Banyak kota satelit kelas menengah dan kelas atas sedang jugsa telah dikembangkan di Tangerang, dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, mini market, sekolah swasta. Pemerintah bekerja didalam mengembangkan sistem jalan tol untuk mengakomodasikan arus lalu lintas yg kian banyak ke tangerang dan dari Tangerang. Kota ini dahulu termasuk bagian dari Provinsi Jawa Barat, sejak tahun 2000 memisahkan diri lalu menjadi bagian dari provinsi Banten. Demografinya juga memiliki jumlah komunitas Tionghoa yg cukup signifikan, banyak dari mereka adalah campuran Cina Benteng. Mereka didatangkan sebagai buruh oleh kolonial Belanda pada abad ke delapan belas dan sembilan belas, dan kebanyakan dari mereka masih berprofesi sebagai petani dan buruh. Budayanya berbeda dengan komunitas Tionghoa lainnya di Tangerang sewaktu hampir tidak seorangpun dari mereka yang berbicara dengan gaya Mandarin, mereka merupakan pemeluk Taoisme yang masih kuat dan tetap menjaga tempat-tempat ibadah juga pusat komunitas mereka. Secara etnis, mereka tercampur, tapi menyebut dirinya sebagai Tionghoa. Banyak kuburan Tionghoa yang berlokasi di Tangerang, kebanyakan saat ini telah dikembangkan menjadi wilayah sub-urban seperti Lippo Village. Kawasan pecinan Tangerang berada di Pasar Lama, Benteng Makassar, Kapling juga Karawaci, dan Poris. Orang-orang bisa menemukan makanan dan barang-barang khas China. Lippo Village merupakan lokasi permukiman baru. Kebanyakan penduduknya pendatang, bukan asli dari Cina Benteng.
Sejarah Asal mula Tangerang disebut sebagai Kota Benteng Untuk mengungkapnya asal mula tangerang sebagai kota "Benteng", dibutuhkan catatan yang menyangkut soal perjuangan. Berdasarkan sari tulisan F. de Haan yang diambil dari arsip VOC, resolusi pada tanggal 1 Juni 1660 dilaporkan tentang Sultan Banten telah membuat sebuah negeri besar yang letaknya di wilayah barat sungai Untung Jawa, dan untuk mengisi negeri baru itu Sultan Banten sudah memindahkan lima hingga enam ribu penduduk. Lalu dalam Dag Register tgl 20-12-1668 diberitakan bahwa Sultan Banten sudah mengangkat Radin Sina Patij dan Keaij Daman menjadi penguasa di daerah baru tersebut. Karena dicurigai hendak merebut kerajaan, Raden Sena Pati dan juga Kyai Demang dipecat oleh Sultan. Sebagai penggantinya diangkatlah Pangeran Dipati lainnya. Atas pemecatan itu Ki Demang merasa sakit hati. Kemudian tindakannya selanjutnya ia mengadu domba antara Banten dengan VOC. Namun ia terbunuh di Kademangan. Pada arsip VOC berikutnya, yaitu dalam Dag Register tertanggal 4-3-1980 menjelaskan soal penguasa Tangerang pada masa itu adalah Keaij Dipattij Soera Dielaga. Kyai Soeradilaga serta putranya Subraja minta perlindungan kepada kompeni yang diikuti 143 pengiring dan para tentaranya (keterangan ini terdapat didalam Dag Register tanggal 2-7-1982). Ia dan pengiringnya saat itu diberi tempat di wilayah timur sungai, berbatasan dengan pagar-pagar kompeni. Sewaktu bertempur dengan Banten, ia bersama ahli perangnya berhasil memukul mundur pasukan Banten. Atas jasa keunggulannya ini kemudian ia diberi gelar Raden Aria Suryamanggala, sedangkan Pangerang Subraja diberi gelar kehormatan Kyai Dipati Soetadilaga. Setelah itu Raden Aria Soetadilaga diangkat sebagai Bupati Tangerang satu dengan wilayahnya meliputi antara sungai Cisadane dan angke. Gelar yang dipakainya adalah Aria Soetidilaga satu. Lalu dengan perjanjian yang ditanda tangani pada tgl 17/4/1684, Tangerang menjadi wilayah kekuasaan kompeni, Banten tidak memiliki hak untuk campur tangan dalam mengatur tata pemerintahan di Tangerang. Salah satu pasal perjanjiannya berbunyi: "Dan mesti diketahui dengan pasti sejauh mana batas- batas wilayah kekuasaan yang sejak masa lampau telah dimaklumi maka akan tetap ditentukan yaitu daerah yang dibatasi dengan sungai Untung Jawa atau Tangerang dari pantai Laut Jawa hingga pegunungan2 sejauh aliran sungai tersebut dengan kelokan2 dan kemudian menurut garis lurus.